Coneta Angelita

Kata “Cenote” itu berasal dari kata suku maya “D’zonot” yang berarti “sebuah lubang/gua bawah tanah yang memiliki air”. Sedangkan “Angelita” berarti “malaikat kecil”. Jadi Cenote Angelita berarti “Gua Malaikat Kecil”.

Coneta Angelita

Kata “Cenote” itu berasal dari kata suku maya “D’zonot” yang berarti “sebuah lubang/gua bawah tanah yang memiliki air”. Sedangkan “Angelita” berarti “malaikat kecil”. Jadi Cenote Angelita berarti “Gua Malaikat Kecil”.

Coneta Angelita

Kata “Cenote” itu berasal dari kata suku maya “D’zonot” yang berarti “sebuah lubang/gua bawah tanah yang memiliki air”. Sedangkan “Angelita” berarti “malaikat kecil”. Jadi Cenote Angelita berarti “Gua Malaikat Kecil”.

Coneta Angelita

Kata “Cenote” itu berasal dari kata suku maya “D’zonot” yang berarti “sebuah lubang/gua bawah tanah yang memiliki air”. Sedangkan “Angelita” berarti “malaikat kecil”. Jadi Cenote Angelita berarti “Gua Malaikat Kecil”.

Coneta Angelita

Kata “Cenote” itu berasal dari kata suku maya “D’zonot” yang berarti “sebuah lubang/gua bawah tanah yang memiliki air”. Sedangkan “Angelita” berarti “malaikat kecil”. Jadi Cenote Angelita berarti “Gua Malaikat Kecil”.

Jumat, 14 Oktober 2011

Kehidupan Zaman Es Berada Di Cina Masih Ada


Zaman es diperkirakan masih terjadi di goa-goa terdalam di "Negari Tirai Bambu" China. Tersembunyi di dalam goa, fragmen dari zaman es Bumi masih selamat. Walaupun tidak ada mammoth yang masih selamat, tetapi sebuah tumbuhan kecil yang merepresentasikan 30.000 tahun lalu diperkirakan masih ada.
Peneliti dari Chinese Academy of Science dan Natural History Museum Inggris menyatakan telah mengidentifikasi tujuh spesies jelatang dari Provinsi Guaxi dan Yunnan. Jelatang atau dalam bahasa Inggris disebut poison ivy adalah jenis tumbuhan berbulu halus yang bisa menyebabkan gatal di kulit.
Seharusnya di kedua provinsi tersebut terdapat tumbuhan tropis. Namun, tujuh spesies yang ditemukan tidak mirip dengan tumbuhan tropis. Jelatang tersebut ditemukan di tempat-tempat gelap, di mana jarang ada sinar matahari.
Fakta yang ada, kemungkinan jelatang untuk bisa hidup di kegelapan hanya 0,02 persen. Hal ini sangat tidak mungkin terjadi di zaman sekarang ini ehingga kemungkinan zaman es masih berlangsung di goa tersebut.
Lingkungan yang memungkinkan jelatang macam ini bisa hidup adalah pada zaman es. Goa dan jelatang ini merupakan sisa-sisa dari kehidupan zaman es yang masih ada di planet ini. Selain itu, ada kemungkinan lainnya yang memungkinkan hal ini terjadi, yaitu evolusi pada jelatang. Akan tetapi, umur dari goa tersebut hanya satu juta tahun yang berarti bahwa evolusi pada jelatang terjadi sangatlah cepat.

Kodok Yang Dapat Mendeteksi Aktivitas Seismik


Kodok Bufo bufo dapat mendeteksi peningkatan aktivitas seismik. Mereka akan mengubah perilaku mereka dari modus pembiakan ke modus evakuasi saat mendapati adanya aktivitas seismik. Hal ini dijelaskan dalam Journal of Zoology milik Zoological Society of London.
"96 persen kodok jantan meninggalkan populasinya di kawasan pembiakan lima hari sebelum gempa melanda L'Aquila, Italia," lapor peneliti dari The Open University, Inggris. Lokasi pembiakan itu sendiri berjarak 74 kilometer dari episentrum gempa.
Jumlah pasangan kodok di tempat pembiakan sudah tidak didapati tiga hari sebelum gempa. Tidak ada telur kodok baru ditemukan di kawasan itu sejak kejadian gempa melanda sampai tanggal gempa susulan yang cukup besar. Padahal, kawasan pembiakan tersebut normalnya didominasi pejantan yang tetap berada di sana sejak pembuahan sampai masa bertelur selesai.
Perubahan dari perilaku kodok juga bertepatan dengan gangguan di ionosfer, lapisan elektromagnetik paling atas dari atmosfir bumi yang terdeteksi menggunakan suara radio frekuensi sangat rendah (VLF). Pelepasan radon gas, atau gelombang gravitasi menjelang gempa bumi juga berhubungan dengan perubahan di medan dan arus elektrik di atmosfer. Namun dalam penelitian kali ini, penyebab gangguan terhadap ionosfer tidak dipelajari.
Peneliti juga mengamati perubahan lingkungan lain yang memengaruhi perilaku kodok, termasuk siklus bulan dan perubahan kondisi cuaca juga dihitung. Jumlah kodok di kawasan pembiakan meningkat saat bulan purnama. Tetapi setelah gempa bumi, jumlah kodok yang hadir di sana saat purnama hanya 34 ekor, dibandingkan 67 dan 175 ekor di tahun-tahun sebelumnya.
"Penelitian kami merupakan yang pertama mendokumentasikan perilaku hewan sebelum, ketika, dan setelah gempa bumi terjadi," kata Rachel Grant, ketua tim penelitian tersebut. "Temuan kami mengindikasikan bahwa kodok mampu mendeteksi petunjuk praseismik seperti pelepasan gas dan partikel bermuatan dan menggunakannya sebagai teknis sistem peringatan dini terhadap gempa," ucapnya. (National Geographic Indonesia/Abiyu Pradipa)
Sumber

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More